Sayyid Musa Shadr Jejak Pemikiran & Perjuangan

Kategori: Al-Huda » Sejarah | 58 Kali Dilihat
Sayyid Musa Shadr Jejak Pemikiran & Perjuangan Reviewed by penjualbuku14 on . This Is Article About Sayyid Musa Shadr Jejak Pemikiran & Perjuangan

  Judul Buku : Sayyid Musa Shadr Jejak Pemikiran & Perjuangan   Penulis : Abdurrahim Abadzari Penerjemah : Salman Parisi Penyunting : Dede Azwar Nurmansyah Penerbit : Citra Tebal : 192 halaman Ukuran : 14.7 x 22.5 cm Harga : Rp 37.500,- Resensi: Persatuan, yang bersumber dari ketulusan, merupakan modal… Selengkapnya »

Rating:

Hubungi Kami

Order via SMS

085715545327

Format SMS : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU :
Kg
19-01-2012
Detail Produk "Sayyid Musa Shadr Jejak Pemikiran & Perjuangan"
 

Musa-Sadr-Judul Buku : Sayyid Musa Shadr Jejak Pemikiran & Perjuangan

 

Penulis : Abdurrahim Abadzari

Penerjemah : Salman Parisi

Penyunting : Dede Azwar Nurmansyah

Penerbit : Citra

Tebal : 192 halaman

Ukuran : 14.7 x 22.5 cm

Harga : Rp 37.500,-

Resensi:

Persatuan, yang bersumber dari ketulusan, merupakan modal dalam segala hal. Peribahasa mengatakan, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Dalam konsep negara-bangsa di alam modern, penonjolan terhadap sebuah anasir negara-bangsa, seperti agama dan mazhab, di tengahtengah masyarakat yang pluralistik, boleh jadi akan merobek persatuan bangsa. Kasus Lebanon, misalnya, adalah sebuah negara yang multietnis dan multiagama. Sehingga, bagaimana menjalankan roda pemerintahan dan bangsa, sangat ditentukan oleh platform para founding fathers-nya.

Kemunculan Musa Shadr di tengah-tengah masyarakat Lebanon yang majemuk, menjadi oase tersendiri. Karena visi beliau yang teguh pada persatuan, toleransi, dan nasionalisme yang logis, masyarakat Lebanon mampu menerima beliau tanpa memerhatikan atribut mazhabnya sebagai ulama Syi’ah. Persatuan Islam, bagi Musa Shadr, menjadi aspirasi besar yang berkecamuk di hatinya sejak masih berstatus mahasiswa ilmu-ilmu agama di hauzah ilmiah Qom. Pengaruh Allamah Amini pada dirinya menjadikan dirinya berusaha mencari solusi untuk menciptakan persatuan Sunni-Syi’ah (Bab 4, hal.75).

Tak bisa dipungkiri, dalam beberapa aspek, amalan fikih terkadang menjadi pemisah antara Sunni dan Syi’ah. Karena itu, salah satu usulannya adalah membuka ruang diskusi terbuka pada permasalahan fikih tertentu misalnya penyatuan azan yang disepakati oleh Sunni dan Syi’ah (Bab 4, hal.80). Kecintaannya terhadap persatuan, tidak menghalangi beliau untuk melakukan kerja sama dengan kelompok Kristen Lebanon karena realitas politik dan kesadaran kemanusiaan menuntut demikian. Dengan penjelasan bahwa sesungguhnya Lebanon sedang mengalami kekuatan imperialisme dunia yang licik, kelompokkelompok yang berbeda, baik sisi agama maupun mazhab, di Lebanon menyambut hangat upaya dari Musa Shadr tersebut. Kesederhanaan hidup beliau telah menjadikan faktor penguat mereka dalam mendukung Imam “yang hilang” ini.

Buku yang disusun dalam tujuh bab ini memerikan profil beliau, dimulai dari kelahiran, pemikiran, perjuangan beliau hingga penculikan atas dirinya. Jejak pemikiran dan perjuangannya sangat patut diteladani oleh muslim mana pun, khususnya oleh kawasan yang dihuni oleh masyarakat majemuk seperti Indonesia ini.[]