Rekonstruksi Pemikiran Religius Dalam Islam

Kategori: Filsafat » Mizan | 149 Kali Dilihat
Rekonstruksi Pemikiran Religius Dalam Islam Reviewed by penjualbuku14 on . This Is Article About Rekonstruksi Pemikiran Religius Dalam Islam

Judul Rekonstruksi Pemikiran Religius Dalam Islam (Fresh Stock) No. ISBN 9789794339589 Penulis Muhammad Iqbal Penerbit Mizan  Tanggal terbit Juni – 2016 Jumlah Halaman 292 Berat Buku 500 gr Jenis Cover Soft Cover Dimensi(L x P) – Kategori Islam  Bonus- Text Bahasa Indonesia · Adalah Muhammad Iqbal yang memberikan kritik pada argumen filsafat Skolastik… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga: Rp 75.000 Rp 63.000
Order via SMS

085715545327

Format SMS : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : RPRDI
Stok Tersedia
Kg
14-11-2017
Detail Produk "Rekonstruksi Pemikiran Religius Dalam Islam"
Judul Rekonstruksi Pemikiran Religius Dalam Islam (Fresh Stock)
No. ISBN 9789794339589
Penerbit Mizan 
Tanggal terbit Juni – 2016
Jumlah Halaman 292
Berat Buku 500 gr
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) –
Kategori Islam
 Bonus-
Text Bahasa Indonesia ·

Adalah Muhammad Iqbal yang memberikan kritik pada argumen filsafat Skolastik yang menyatakan eksistensi Tuhan. Iqbal menilai bahwa kosmologi, teleologi dan ontologi merupakan argumen rentan terhadap kritik serta menunjukkan sesuatu yang dangkal tentang pengalaman. Lebih jauh, Iqbal menguraikan bahwa argumen kosmologi tidak cukup kuat untuk menjadi argumen adanya Tuhan, pasalnya argumen yang diajukan pada dasarnya mencoba mencapai pengertian tentang sesuatu yang terbatas justru dengan menolak sesuatu yang terbatas. Sesuatu yang tak terbatas yang dicapai dengan mengoposisikan sesuatu yang terbatas adalah sesuatu yang tak terbatas palsu, yang tak menerangkan dirinya sendiri atau menerangkan sesuatu yang terbatas sebagai lawan dari sesuatu yang tak terbatas. Sesuatu yang tak terbatas yang sebenarnya, bagi Iqbal, tidak perlu menyisihkan sesuatu yang terbatas untuk mengesahkan dirinya yang tak terbatas.

Sama halnya dengan argumen teleologis, yang bagi Iqbal juga tidak lebih baik dari argumen kosmologi. Argumen teleologi ini dibantah Iqbal dengan mengatakan bahwa analogi yang digunakan dalam teleologi sama sekali tidak tepat. Analogi kerja antara tukang dengan fenomena alam, tukang tak dapat mengerjakan rencananya tanpa terlebih dahulu memilih serta memisahkan bahannya dan situasi-situasi alamiah bahan-bahan tersebut, sedangkan alam membentuk suatu sistem dari bagian-bagian yang seluruhnya interpenden. Bagi Iqbal proses alam tidak analog dengan kerja seorang arsitek, yang karena harus terlebih dahulu memisah serta menyatukan bahan-bahannya tak dapat menyamai evolusi keseluruhan organik yang terjadi pada alam. Tentang argumen ontologi, yang disandarkan pada argumen Descartes, menyatakan bahwa untuk menyatakan suatu atribut (sifat) terletak dalam kodrat atau dalam konsep tentang suatu benda, adalah sama dengan mengatakan atribut tersebut benar bagi benda itu, dan bahwa atribut itu memang benar-benar ada padanya. Sifat wujud yang merupakan keharusan kita bisa jadi ada di dalam kodrat atau konsep tentang Tuhan, karena itu ada benarnya juga untuk menegaskan bahwa sifat wujud yang merupakan keharusan itu memang benar-benar ada pada Tuhan, atau bahwa Tuhan itu ada. Iqbal menyanggah argumen itu dengan mengatakan bahwa gagasan tentang adanya sesuatu bukan satu-satunya bukti bahwa sesuatu itu ada secara objektif.

Menggugat Supremasi Akal

Iqbal sendiri memberikan alternatif lain untuk menyatakan eksistensi Tuhan. Iqbal menunjukkan bukti eksistensi Tuhan dengan argumen pengalaman relijius atau intuisi, dengan metode ini pula Iqbal sedang melakukan perlawanan pada pemikir modern yang terlalu membesar-besarkan peranan intelek, dan mengabaikan peranan intuisi atau dalam hal yang lebih dalam peranan agama. Dalam pembuktian Tuhan, para pemikir saat itu amat dipengaruhi oleh kemajuan alam materialis, hasil kemajuan ilmu pengetahuan modern, sehingga mengabaikan atau megingkari nilai-nilai yang berkaitan dengan intuisi (cinta) serta pengalaman relijius (Sayyidin:1981). Hal ini juga yang diungkapkan oleh Bergson bahwa hanya manusialah makhluk satu-satunya yang memilki intelek untuk menghadapi kehidupannya; bahwa kecerdasan, komunitas (masyarakat) dan bahasa membuat manusia berbeda dengan hewan. Akan tetapi, gambaran dunia yang diterima oleh manusia lewat inteleknya, belum lengkap, karena hanya menunjukkan lapisan luarnya saja.

Iqbal tidak pernah mengingkari ke-sahih-an intelek dalam mencapai kebenaran, Iqbal ingin menekankan kebenaran intuisi (juga) dalam perjalanan mencapai kebenaran. Selaian alasan itu, Iqbal juga ingin menegaskan bahwa realitas yang diketahui melalui pengetahuan inderawi memiliki makna lebih dalam daripada apa yang terlihat dan yang dipikirkan, dan cara untuk mengetahui itu lewat metode intuisi.

Intuisi yang ditawarkan oleh Iqbal adalah penawar dari kegelisahan Kant dan Al Ghazali melihat permasalahan. Kant, menurut Iqbal sesuai dengan prinsip-prinsipnya sendiri, tak dapat menguatkan mungkinnya pengetahuan Tuhan. Lalu, masih menurut Iqbal, Al Ghozali sesudah tak mendapat harapan mengurai dengan pikiran, ia pindah ke dalam alam mistik dan disitulah ia mendapatkan kepuasan yang bebas terhadap agama. Kant tidak puas dengan agama dan menggantikannya dengan filsafat –serta menganggap bahwa Yang Ultim (Tuhan) bukanlah termasuk pengtahuan, dan karena pengetahuan hanya bisa ditemui dengan jalan inderawi. Sedangan Al Ghazali kecewa dengan filsafat dan menawarkan jalan mistik – dimana Tuhan bisa ditemui dengan jalan mistis. Bagi Al Ghozali, sulit rasanya bagi pikiran yang terbatas untuk dapat memahami yang tak terbatas. Bagi iqbal, persoalan yang dihadapi kedua tokoh tersebut bisa dijembatani, yaitu meyakini bahwa pengalaman relijius sebagai sebuah pengetahuan kebenaran, meskipun tanpa campur tangan organ inderawi.

Intuisi atau pengalaman relijius bagi Iqbal sama sahih-nya dengan pengalaman indrawi sebagai alat untuk mencapai kebenaran. Bagi Iqbal alat untuk memperoleh kebenaran tidaklah tunggal dan hanya monopoli indrawi saja. (Pengalaman) Intuisi bagi Iqbal adalah sama konkritnya dengan pengalaman indrawi, keduanya sama-sama memiliki kebenaran, meskipun intuisi tidak dapat diikuti kembali jejaknya melalui cerapan indera.

Pesan Untuk Bangsa Timur

Masa di mana Iqbal hidup (1877-1938) adalah masa-masa yang berat bagi bangsa Timur, khususnya masyarakat Islam. Pasalnya, saat itu bangsa Timur sedang dalam terlena dan minder akan keberhasilan bangsa Barat. Saat itu Barat, khususnya Eropa sedang berada pada masa emasnya, di mana ilmu pengetahuan sedang dikembangkan dengan sangat serius. Dalam kegelisahannya, Iqbal menyatakan bahwa selama 500 (lima ratus) tahun terakhir ini pemikiran agama dalam Islam praktis terhenti, menurutnya, dan pada saat itu Eropa telah menerima inspirasi dari dunia Islam. Iqbal mengakui bahwa kepesatan dan sejarah modern yang ada di Barat telah menarik Islam. Meskipun memang sikap demikian menurut Iqbal tak bisa disalahkan, karena kebudayaan Eropa dalam intelektualnya hanyalah perkembangan lanjutan dari beberapa fase yang sangat penting dari kebudayaan Islam.

Iqbal, mungkin akan mengingatkan kita pada al Kindi, ulama pertama yang bersentuhan dengan filasafat Yunani, yang berusaha mendialogkan ‘pengetahuan baru’ dengan iman dan kepercayaannya. Meski masa, waktu, situasi, dan tempat berbeda, Iqbal dan al Kindi, keduanya berusaha sekuat tenaga menarik kembali makna agama (dalam hal ini metafisika) dan realitas. Al Kindi seperti dikutip oleh Karen Amstrong adalah muslim pertama yang menerapkan metode rasional Al Qur’an, seperti yang dikatannya: Kita tidak usah malu meyakini kebenaran dan mengambilnya dari sumber mana pun ia datang kepada kita, bahwa walaupun seandainya ia dihadirkan kepada kita oleh generasi terdahulu dan orang-orang asing. Bagi siapa saja yang mencari kebenaran, ta ada nilainya yang lebih tinggi kecuali kebenaran itu sendiri; kebenaran tidak pernah merendahkan atau menghinakan orang yang mecapainya, namun justru mengagungkan dan menghormatinya.

al Kindi menyebut bahwa kebaikan bisa saja hadir dari manapun. Dan bagi Iqbal kemajuan yang ada di Barat tidak bisa hanya dilihat sebagai kekaguman belaka, tanpa ada usaha dari setiap individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat lebih baik. Setidaknya ada 3 (tiga) hal yang memberikan kesan mendalam bagi Iqbal tentang Eropa sebagaimana yang dikutip Majid Fakhri dari Wilfred C. Smith, yaitu: (1)vitalitas dan dinamisme kehidupan orang-orang Eropa, (2)kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas bagi manusia, (3)dan pengaruh yang mengancam harkat manusia yang dimiliki masyarakat kapitalis atas jiwa-jiwa Eropa. Pada hal terakhir itu, Iqbal menanggapinya bahwa Agama merupakan cita-cita moral dan spiritual dan oleh karenanya harus dipertahankan. Bahwa manusia tak bisa melepaskan diri dari tuntunan agama dan keberadaan Tuhan.

Iqbal mengambil hikmah dengan apa yang terjadi di Barat untuk bangsa Timur, Ia mengajukan gagasan tentang khudi atau ego. Untuk mengawali apa yang dimaksudkan dengan hal itulah, Iqbal mulai bertanya tentang arti sebuah hidup: kalau kau mengetahui rahasia hidup jangan mencari atau menerima sebuah hati tanpa percikan keinginan. Bagi Iqbal hidup adalah gerak ke depan, proses asimilasi yang intinya terdapat kreasi ide dan keinginan yang terus menerus ada. Ekspresi tertinggi kehidupan adalah bila seseorang menjadi pusat energi aktivitas dan menampilkan kesatuan penting dalam bentuk kemandirian konkret yang saling berkaitan. Sumber penting kehidupan manusia inilah yang disebut Iqbal sebagai ego.

Menjadi Otentik

Ego yang digagas Iqbal adalah ego yang otentik, hingga apa yang dirasakan tiap ego hanya akan dirasakan oleh satu ego saja, meskipun pada praktiknya setiap ego pernah memiliki perasaan seperti bahagia, cinta, benci, pertimbangan atau keputusan. Perasaan itu tetaplah unik untuk tiap individu, tidak pernah sama keunikan satu dengan keunikan lainnya, dan rasa setiap perasaan tidaklah sama untuk satu perasaan tertentu. Apa yang dialami satu ego selalu unik dan tidak terulang keunikannya pada ego yang lain. Iqbal, lebih jauh bahkan mengatakan bahwa Tuhan sendiripun tidak dapat merasakan apa yang individu itu rasakan. Iqbal ataupun Kiekegaard beranggapan bahwa setiap manusia memiliki jalannya sendiri-sendiri yang tak mungkin sama dengan jalan manusia satu dan lainnya.

Karena ego adalah unik, maka bagi Iqbal, ego tidak mungkin memikul beban yang ego yang lain, manusia sebagai ego berhak atas hasil yang ia kerjakan. Setiap manusia memikul bebannya masing-masing, tidak ada silang pikul beban atau menanggung beban yang lain. Konsep unik ini juga diaminkan oleh Kiekegaard serta Niestzsche, mereka bertiga berpendapat bahwa setiap manusia mendapatkan perjalanan spriritualnya masing-masing. Lebih jelasnya, Kiekegaard menyangkal tentang kemungkinan solusi kolektivis atau sosial bagi masalah-masalah spiritual kehidupan manusia. Keunikan tiap ego menekankan adanya keistimewaan setiap individu, bahwa aku tidak bisa dikatakan menjadi kita. Karena masing-masing aku memiliki kekhasan, keunikan dan keistimewaannya sendiri. Setiap kesadaran ego tidak pernah sama satu sama lain, oleh karenanya tidak bisa disatukan dalam kita. Hal itu juga sejalan dengan apa yang diungkapkan Rumi dalam sajaknya:

Ini jalanmu,
Dan jalanmu saja.
Orang lain dapat bersamamu,
Tapi tak ada yang dapat menjalaninya untukmu.

Tujuh Malakah dalam Satu buku

Gagasan Iqbal tentang metode intuisi, khudi atau ego, waktu murni serta konsep-konsep filsafatnya terdapat di buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Sebuah buku yang berisi kumpulan 7 (tujuh) makalah yang dibuat oleh Iqbal pada saat memberikan kuliah dan atau ceramah. Membaca buku Iqbal ini seolah membelah belantara pengetahuan, karena Iqbal bukan saja memaparkan pemikiran filosofisnya saja, melainkan juga mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam gagasan-gagasan pemikir dari Timur dan Barat, baik yang ia terima gagasannya ataupun yang ia tolak. Iqbal tidak hanya mampu mengawinkan konsep filsafat Barat dan Timur, akan tetapi dia juga mampu merumuskan gagasan filsafatnya sendiri. Dalam sebuah pengantar di tesis doktoral Iqbal yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Haidar Bagir bahkan menyebut Iqbal telah melampaui apologetika kaum modernis, ia telah melampaui zamannya sendiri. Dan pada zaman sedini itu, ia telah menyadari perlunya penanaman kembali intelektualisme, tanpa mengabaikan aktivisme.

Dalam buku ini kita bisa melihat jejak pemikiran Bergson tentang konsep waktu, intuisi dan ego, kita juga bisa melihat konsep manusia sempurna yang dibangun oleh Iqbal –pada sisi yang lain kita juga bisa menemui konsep Übermensch dari Nietzsche atau Kierkegaard. Di Indonesia, buku ini setidaknya pernah diterbitkan tiga kali oleh tiga penerbit yang berbeda, yaitu penerbit Bulan Bintang yang diterjemahkan oleh Osman Raliby, penerbit Jalasutra yang diterjemahkan oleh Gunawan Mohammad dkk, dan yang terakhir adalah Mizan dengan penerjemah Hawasi dan Musa Kazim. Mizan sendiri menerbitkan buku ini pada bulan Juni 2016 dengan judul Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam, versi Mizan ini cukup menarik, karena disertai dengan anotasi dari M. Saeed Sheikh. Anotasi yang dibuat oleh M. Saeed Sheikh berisi tentang sumber asli yang dikutip oleh Iqbal, buku-buku rujukan, serta penjelasan singkat tentang gagasan Iqbal. Anotasi ini menjadi semacam jembatan untuk memahami apa yang hendak disampaikan oleh Iqbal pada pembaca, karena sebagaimana yang diketahui bahwa Iqbal seringkali loncat dari satu pembahasan ke pembahasan lain dalam satu bab. (Promosi/Aida)