Kode Etik Mubalig

Kategori: Akhlak » Citra » Pendidikan | 93 Kali Dilihat
Kode Etik Mubalig Reviewed by penjualbuku14 on . This Is Article About Kode Etik Mubalig

Judul : Kode Etik Mubalig: Tuntunan Dakwah Secara Islam Penulis : Murtadha Husaini Penerjemah : Salman Fadhlullah Penyunting : Arif Mulyadi Ukuran : 12 x 17 cm Tebal : 150 halaman Harga : Rp 21.000,- Resenesi: Dunia sekarang disibukkan oleh propaganda dan iklan-iklan media massa. Acara-acara dakwah di TV di negeri… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga:Rp 21.000
Order via SMS

085715545327

Format SMS : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : KEM
Stok Tersedia
0.3 Kg
18-06-2012
Detail Produk "Kode Etik Mubalig"

Judul : Kode Etik Mubalig: Tuntunan Dakwah Secara Islam

Penulis : Murtadha Husaini

Penerjemah : Salman Fadhlullah

Penyunting : Arif Mulyadi

Ukuran : 12 x 17 cm

Tebal : 150 halaman

Harga : Rp 21.000,-

Resenesi:

Dunia sekarang disibukkan oleh propaganda dan iklan-iklan media massa. Acara-acara dakwah di TV di negeri ini pun tak lepas dari kepungan pariwara-pariwara komersial. Bahkan demi menaikkan rating dan menarik pengiklan sebanyak-banyaknya, stasiun-stasiun TV berlomba mencari mubalig yang mampu memunculkan sensasi. Hal ini jelas memunculkan masalah. Mubalig akan dihadapkan pada dua pilihan: idealisme atau pragmatisme. Jika idealisme yang dipilih, rating acara tidak akan tinggi (atau bahkan tidak televisi yang melirik). Sebaliknya, jika pragmatisme yang dipilih, sangat dikhawatirkan substansi dakwah tidak tersampaikan dengan baik. Acara ceramah agama pun seolah menjadi identik dengan hiburan spiritual. Fenomena dakwah seperti ini akhirnya menjadi keprihatinan Murtadha Husaini, sehingga melahirkan karya riset beliau, Kode Etik Mubalig: Tuntunan Dakwah Secara Islam.

Menurut penulis, mubalig sesungguhnya representasi dari misi kenabian. Seperti kita tahu, di antara misi kenabian yang terpenting adalah memuliakan akhlak. Nabi saw pernah bersabda bahwa pengutusan dirinya kepada umat manusia adalah demi menyempurnakan akhlak mulia. Maka itu, seorang mubalig seyogianya memiliki kualitas-kualitas kenabian. Buku yang terdiri dari tiga bab ini membahas berbagai aspek dakwah, antara lain terminologi akhlak tablig, signifikansi tablig, sifatsifat yang harus dimiliki oleh seorang mubalig, seperti iman, ilmu, ikhlas, takwa, kesederhanaan, berani, serta istiqamah; serta membahas tentang akhlak sosial tablig seperti tawadhu’, berakhlak baik (husn al-khulq) dan juga berlapang dada (syarh shadr).

Sepertinya penulis menginginkan agar mereka yang berkecimpung dalam dunia tablig dan dakwah ini tidak menjadikan uang sebagai segala-galanya. Fokus mereka hendaknya tetap pada jalur peningkatan kualitas moral dan akhlak yang merupakan salah satu misi kenabian. Sekalipun pembahasan buku ini bersifat global, buku berukuran mungil ini memadai untuk dijadikan panduan bagi Anda yang bergiat di bidang dakwah dan ingin masuk dalam barisan ‘pewaris para nabi’. (Arif Mulyadi)