Keajaiban Ksatria Langit

Kategori: Al-Huda » Anak » Sejarah | 171 Kali Dilihat
Keajaiban Ksatria Langit Reviewed by penjualbuku14 on . This Is Article About Keajaiban Ksatria Langit

Judul : Keajaiban Ksatria Langit: Karamah Sayidina Husain Penulis : Dr. Abdurrasul Ghiffari Penerjemah : Salman Parisi Penyunting : Arif Mulyadi Penerbit : Al-Huda Tebal : 246 halaman Harga : Rp 42.500,- Resensi:   Kedatangan bulan Muharam direspon oleh secara berbeda oleh mazhab Ahlusunnah dan mazhab Ahlulbait. Mazhab pertama merayakan hari… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga:Rp 42.500
Order via SMS

085715545327

Format SMS : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : KKL
Stok Tersedia
0.3 Kg
10-10-2012
Detail Produk "Keajaiban Ksatria Langit"

Keajaiban Ksatria Langit: Karamah Sayidina HusainJudul : Keajaiban Ksatria Langit: Karamah Sayidina Husain

Penulis : Dr. Abdurrasul Ghiffari

Penerjemah : Salman Parisi

Penyunting : Arif Mulyadi

Penerbit : Al-Huda

Tebal : 246 halaman

Harga : Rp 42.500,-

Resensi:

 

Kedatangan bulan Muharam direspon oleh secara berbeda oleh mazhab Ahlusunnah dan mazhab Ahlulbait. Mazhab pertama merayakan hari Asyura itu sebagai hari raya anak yatim. Karenanya, pada hari itu kita akan menemukan yayasan yatim piatu, panti-panti asuhan, serta lembaga-lembaga keagamaan Islam lainnya menyambut bulan ini dengan suka cita. Pada bulan ini, kaum muslim Ahlussunnah yang diberi kelebihan rezeki materi menebarkan hadiah-hadiah kepada mereka yang yatim piatu.

Sementara, mazhab Ahlulbait justru memperingatinya dengan duka cita. Betapa tidak, pada tanggal 10 Muharam 61 H, cucunda tercinta Rasulullah saw, Husain bin Ali, dibantai secara mengenaskan di Padang Karbala dalam keadaan dahaga oleh orangorang yang mengaku umat Muhammad saw. Karena itulah, dalam pandangan mazhab Ahlulbait, tidak sepantasnya hari pembantaian itu dijadikan sebagai hari raya karena terkesan kaum muslim mensyukuri syahidnya Sayidina Husain.

Buku ini, bagaimanapun, tidak membicarakan kronologi tragedi Karbala yang memang sudah banyak dibahas dalam buku-buku lain. Fokus pembahasan buku ini terletak pada karamah Sayidina Husain, baik sebelum maupun sesudah hari Asyura (khususnya Pasal 5). Akan tetapi, untuk membidas serangan-serangan antikaramah dari kelompok muslim tertentu, Abdurrasul (dalam sampul depan tercetak Abdurrahman) mendedah definisi mukjizat dan relasinya dengan karamah (Pasal 2), kemudian masalah mukjizat orang-orang terdahulu seperti mukjizat para nabi (Pasal 4). Menyimak pengantarnya, pembaca akan menyimpulkan bahwa karamahkaramah yang terjadi pada Sayidina Husain as, atau tokoh-tokoh suci lainnya, adalah sesuatu yang bisa diterima akal. Argumentasi penulis niscaya akan menambahkan keimanan para pencinta Husain dan mematahkan logika orangorang yang antikaramah dan antimukjizat.

Buku yang terdiri dari sembilan pasal ditambah dengan dua pengantar ini diawali dengan urgensi penyucian diri. Sepertinya penulis menginginkan agar tema bukunya bisa menjadi pembekalan bagi para pembaca untuk menempuh jalan rohani. Kesyahidan Imam Husain, dalam hal ini, mengandung banyak pelajaran yang, sebenarnya, sangat ‘irfani. Perjalanan Imam ke Karbala merupakan kafilah cinta menuju “penyatuan” dengan Tuhan. Dilengkapi dengan sejumlah foto sebagai bukti karamah Sayidina Husain, buku ini layak untuk dijadikan “teman duduk” pembaca selama perjalanan menuju 10 Muharam dan, tentunya, safar rohani menuju Tuhan.