22 Nasihat Abadi

Kategori: Akhlak » Citra | 100 Kali Dilihat
22 Nasihat Abadi Reviewed by penjualbuku14 on . This Is Article About 22 Nasihat Abadi

22 Nasihat Abadi Penulis : Prof. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi Penerjemah : Abdillah Ba’abud Penyunting : Ahmad Subandi Penerbit : Citra Tebal : 384 halaman Ukuran : 15 x 23.5 cm Rp 147.000 Diantara sekian banyak dokumen keislaman yang sering dijadikan referensi nilai kehidupan muslim adalah kitab Nahj al-Balaghah, yang… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga: Rp 147.000 Rp 120.000
Order via SMS

085715545327

Format SMS : ORDER#NAMA PRODUK#JUMLAH
Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU : NAB
Stok Tersedia
0.7 Kg
02-08-2012
Detail Produk "22 Nasihat Abadi"

22-Penghalus-Budi22 Nasihat Abadi

Penulis : Prof. Muhammad
Taqi Mishbah Yazdi
Penerjemah : Abdillah Ba’abud
Penyunting : Ahmad Subandi
Penerbit : Citra
Tebal : 384 halaman
Ukuran : 15 x 23.5 cm
Rp 147.000

Diantara sekian banyak dokumen keislaman yang sering dijadikan referensi nilai kehidupan muslim adalah kitab Nahj al-Balaghah, yang sebagian pemikir menganggapnya sebagai “saudara”nya al-Quran bersama hadis-hadis nabawi. Karya Sayid Syarif Radhi ini menghimpun khotbah, surat, dan aforisma (pepatah singkat) dari Imam Ali bin Abi Thalib. Meskipun sebagian pihak menyatakan bahwa karya ini gubahan Sayid Syarif Radhi, mayoritas menyimpulkan bahwa dengan gaya bahasa yang dipakai dalam kitab tersebut, karya ini memang bersumber dari Imam Ali as. Inilah pandangan yang setidaknya dianut oleh Prof. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, pensyarah surat Imam Ali as kepada putranya, Sayidina Hasan.

 

Surat bernomor 31 dalam Nahj al-Balaghah ini sepertinya merupakan surat favorit para ulama saat menyampaikan pelajaran-pelajaran akhlak kepada jemaahnya. Tak terkecuali oleh Prof. M.T. Misbah Yazdi, yang dikenal sebagai seorang filsuf Iran kontemporer. Sesuai kompetensi dan kapabilitasnya, beliau mendedah surat tersebut dengan gaya filosofisnya.

Mengawali pembahasannya, yang terdiri dari 22 bahasan dalam buku pertama, Prof. Mishbah Yazdi mengkritisi dulu apa yang disebut dengan wasiat, apakah benar wasiat ini ditujukan kepada Imam Hasan Mujtaba ataukah Muhammad Hanafiyah, salah seorang putra Imam Ali as dari istri yang lain; jika benar, apakah itu pertanda bahwa Imam Hasan bukan seorang maksum lantaran ia masih membutuhkan nasihat dari ayahnya. Pertanyaan-pertanyaan ini yang pertama-tama dijawab oleh ulama prolifik ini.

Tema-tema yang diangkat oleh penulis sendiri mencakup nilai-nilai fundamental, berbagai kondisi hati, jihad fi sabilillah, hakikat dunia, kewajiban menuntut ilmu dan lainlain. Intinya, buku ini terpusat bagaimana membangun kesadaran manusia agar terkoneksi dengan Yang Ilahi, sehingga pada akhirnya menghasilkan budi pekerti yang terpuji dalam makna sedalam dan seluas-luasnya. Selamat menikmati buku ini, dan kita nantikan buku keduanya!